Senin, 10 Oktober 2016

PENDIDIKAN GLOBAL


PENDIDIKAN GLOBAL
Pendidikan global merupakan merupakan upaya untuk menanamkan suatu pandangan (Perspective) tentang dunia kepada para siswa dengan memfokuskan bahwa terdapat saling keterkaitan antar budaya, umat manusia dan kondisi planet bumi. Pada umum nya, tujuan pendidikan setiap mata pelajaran untuk kondisi saat ini menekankan pada kemampuan siswa dalam berfikir kritis ( Critical thinking skills ), namaun ada hal yang unik dalam pendidikan global, yakni fokus subtansinya yang bersal dari hal hal mendunia yang semakin bercirikan pluralism interdepedensi dan perubahan. Tujuan Pendidikan global adalah untuk mengembangkan pengetahuan ( Knowledge ), Keterampilan ( Skills ), dan Sikap ( Attitudes ) yang di perlukan untuk hidup secara efektif dalam dunia yang sumber daya alam nya semakin menipis dan ditandai oleh keragaman etnis, pluralisme budaya dan semakin ketergantungan. Perlunya meningkatkan orientasi para siswa dalam wawasan internasional semakin disadari. Namun demikian, khusus di Indonesia, upaya untuk meningkatkan dan memperluas pemahaman global pada lembaga pendidikan dasar dan menengah masih perlu di berdayakan.
            Kemajuan teknologi, perdagangan anatar Negara, pertukaran budaya, pariwisata, kepedulian terhadap lingkungan, persaingan pasar, kelangkaan dalam sumber dayaalam dan semakin ketatnya perlombaan senjata antar Negara adi kuasa merupakan gambaran dari kondisi masyarakat internasional yang semakin kompleks. Adanya saling ketergantunga adanya ketergantungan antar bangsa dan Negara menimbulkan bentuk bentuk kerjasama di berbagai bidang yang sekaligus pula menimbulkan berbagai persaingan dan konflik. Misalnya ,kerjasama dibidang ekonomi telah menciptakan model blok-blok ekonomi Negara Negara seperti di eropa berdiri MEE, di Asia berdiri APEC. Akibat dari perkembangan dalam teknologi yang di iringi pula oelh muncul nya permasalahan adanya kontak atau singgungan budaya antar bangsa.
Peristiwa atau  proses di atas dinamakan proses globalisasi yang berpengeruh pula terhadap proses pendidikan. The American Association of Colleges for Teacher Education ( AACTE, 1994 ) Mengemukakan bahwa “ globalization said to necessitate changes in teaching, such as more attention to diverse and universal human values, global system, global issues, involvement of different kinds of world actors and global history” Dari pernyataan ini menunjukan bahwa era globalisasi mengharuskan ada nya perubahan dalam strategi dan metode mengajar antara lain dengan lebih memperhatikan keragaman dan nilai nilai manusia universal, sistem dan isu isu global serta keterkaitan dengan masyarakat dunia dan sejarah global.
Willard M.Kniep (1986) mengemukakan bahwa isi pendidikan global dirumuskan dari realitas sejarah dan kondisi saat ini yang menggambarkan dan menunjukan dunia sebagai masyarakat global. Dari hasil analisisnya ini , Kniep memeperkenalkan Empat unsur kajian yang di anggap esensial dan mendasar bagi pendidikan global :
(1) Kajian tentang nilai manusia
(2) kajian tentang sistem global
(3) Kajian tentang masalah- masalah dan isu isu global dan
(4) Kajian tentang sejarah hubungan dan saling ketergantungan antar orang, budaya dan bangsa.
1). Kajian tentang Nilai Manusia
Nilai nilai yang di anut oleh banyak orang umumnya mencerminkan sikap dan keyakinan dan di bentuk oleh pengalaman nya. Nilai- nilai yang kita miliki menentukan bagaimana kita memandang dunia dan bagaimana nilai nilai itu mempengaruhi keputusan dan prilaku kita sebagaimana yang kita lakukan dalam aktivitas hidup. Disamping nilai-nilai yang kita anut itu bersifat pribadi dan terkadang aneh seperti perasaan dan pilihan hal yang paling penting adalah kebersamaan dalam kelompok etnis, nasional dan agama. Nilai nilai yamg kita miliki terkadang melampaui identitas kita yang mungkin di anggap universal dan menentukan kita sebagai manusia. Dlam pendidikan global, khususnya kita tertarik dengan nilai- nilai manusia universal yang melampaui identitas kelompok- kelompok dan perbedaan nilai nilai yang menentukan keanggotaan kelompok dan memberikan kontribusi terhadap pandangan dan perspektif kita yang unik
a. Nilai- Nilai Universal
Untuk pertama kalinya masyarakat dunia, pada akhir abad ke- 20 masyarakat dunia telah merancang standar universal hubungan antar sesame manusia menurut kkragaman dalam keyakinan beragama, dalam filsafat dan ideologi upaya ini ini dilakukan dibawah bantuan dan dukungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Hasilnya telah hampir diterima oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia sebagai manusia yang beradab. Nilai Nilai Universal itu adalah hasil Penetapan PBB Pada tahin 1948 yaitu The Universal Declaration of Human Right yang menegaskan bahwa setiap umat manusia berhak atas hidup, kebebasan,kepemilikan,kesamaan, keadilan, kebebasan beragama,kebebasan berbicara,. Deklarasi ini melarang adanya perbudakan , penyiksaan, penghukuman sewenang-wenang atou penahanan dan piagam ini memberikan hak-hak social dan ekonomi untuk warga sipil dan politik  dan Nilai- nilai universal ini  berasal dari beragam tradisi budaya nasional dan nilai Agama.

b. Perbedaan Nilai Manusia
Dalam pendidikan global,seharusnya kita memberikan kesempatan kapada para siswa untuk menegenal dan memahami keragaman masyarakat dunia. Perbedaan- perbedaan budaya merupakan manifestasi dari adanya keragaman nilai dan perspektif di antara umat manusia. Perbedaan ini tercermin dalam perasaan, pilihan,sikap, gaya hidup dan pandangan dunia tiap masyarakat . Perbedaan ini pun merupakan hasil dari adaptasi evolusi masyarakat dengan lingkungan nya yang cukup unik dalam rangka memenuhi kebutuhan bersama.
2) . Kajian tentang Sistem Global
Kita melaukan hubungan dengan setiap bangsa diseluruh dunia sampai pada tahap yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Adanya saling hubungan dan ketergantunngan antar bangsa ini adalah akibat dari keikutsertaan bangsa kita dalam sistem yang sedang berjalan di dunia saat ini yang sering dinamakan sistem global. Besarnya ruang lingkup  saling ketergantungan sebagaimana kita sadari semakin meningkat sejak berakhirnya Perang Dunia II. Perbuhan ini dapat ditelusuri dari adanya kemajuan IPTEK yang tampak nya telah menciutkan dunia dan juga perubahan interaksi antar Negara yang telah berhasil membentuk organisasi internasional PBB dan menghentikan tradisi imprealisme dan kolonialisme.
a. Sistem Ekonomi
Secara individu atau kelompok, prilaku ekonomi yang kita lakukan sehari-hari cukup menjadi contoh tentang adanya saling ketergantungan. Tampaknya mudah saja menelusuri fakta bukan hanya karena kita tergantung kepada orang atau Negara lain dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari melainkan pula bagaimana orang atau Negara lain di belahan bumi ini tergantung pada kita. Ekonomi Global sistem yang sangat kompleks yang menimbulkan saling ketergantungann lebih jauh dari sekedar hubungan sebab akibat antara konsumen dan p[rodusen pada wilayah yang berbeda. Kajian ini sudah seyogyanya memebantu para siswa mengungkap sejumlah kompleksitas dengan memfokuskan pada para prilaku ekonomi, misalnya motivasinya dan bagaimana mereka membuat keputusan. Kajian selanjutnya berkaitan dengan hubungan antar pelaku ekonomi untuk melihat posisi mereka dalam jaringan interaksi
b. Sistem Politik Global
Peristiwa dunia saat ini menunjukan adanya saling ketergantungan dalam aktivitas politik. Pemilihan umum samapai peristiwa Sidang Umum MPR di Indonesia dan kemungkinan- kemungkinan perubahan struktur kekuasaan mendapat perhatian yang intensif dari seluruh dunia karena implikasi- implikasinya akan mempengeruhi segi keamanan Asia dan keseimbangan kekuatan ( Balance of Power ) antar negar-negara adikuasa. Kebijakan fiscal Amerika Serikat yang biasanya dianggap sebagai masalah dalam negeri, mempengaruhi banyak ekonomi Negara-negara lain dan akhirnya mempengaruhi kemampuan pemerintah Negara tersebut dalam melanjutkan kekuasaanya. Sistem yang banyak didominasi oleh Negara-negara berdaulat ini merupakan jalan untuk menggunakan pengaruh dan kekuasaan dan bahkan mungkin lebih dari sistem politik dalam negeri di pengaruhi oleh kepentingan – kepentingan ekonomi yang berkaitan dengan distribusi sumber daya alam.
c. Sistem Ekologi
 Bumi tempat tinggal kita ini setiap tahun nya mengalami keruskan yang sangat berpengaruh buruk pada kehidupan manusia, tidak lain dan tidak bukan manusia nya lagi sebagai aktor atau dalang dari semua kerusakan lingkungan ini karena kemampuan nya untuk mengelola dan mengekploitasi, memelihara atau merusak lingkungan. Pendidikan Global mengajak para siswa menyadari bahwa ada hubungan simbosis dan saling ketergantungan dengan mahluk hidup maupun mahluk non-hidup bahwa kita sebagai manusia berperan banyak dalam ekologi ini. Pendidikan Global ini akan memebantu para siswa merasa dirinya bagian dari kehidupan di bumi, menyayanginya, menjadikan tempat yang istimewa bagi dirinya, dan melakukan tindakan tindakan secara individu setelah berfikir demi sistem ekologi yang menyeluruh.
d. Sistem Teknologi
Ada sedikit pertanyaan bahwa kita hidup dalam abad teknologi. Sementara teknologi selalu memainkan peran penting dalam kehidupan umat manusia dan sistem bumi, teknologi abad ini berdasarkan mesin jet dan rocket, transistor dan nuklir mengubah kehidupan di planet bumi secara cepat yang tak dapat dibayangkan untuk masa mendatang. Teknologi modern bukan hanya merubah cara hidup individu berkerja dan berhubungan dengan individu lain maupun dengan lingkungan . Pengaruhnya secara dramatis mengubah geopolitik, fungsi ekonomi dunia, dan sistem ekologi global.
3  Kajian tentang  Masalah- masalah dan Isu-isu Global
Setiap hari, sebagian dari hidup kita dibombardir oleh masalah –masalah dan Isu-isu internasional. Apabila para remaja memahami dunianya, maka pendidikan harus dikaitkan dengan hasil penelitian tentang sebab- sebab, akibat-akibat dan kemungkina penyelesaian tentang isu- isu global saat ini. Seperti dalam kajian sistem para siswa harus mengetahui bagaimana mereka mempengaruhi dan di pengaruhi oleh masalah-masalah dan isu isu ini. Sehingga, mereka berhak mengetahui bagaimana mereka dapat menjadi bagian dari isu-isu dan masalah –masalah global dan bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi dalam proses penyelesaian itu.
Apakah Ciri isu-isu dan masalah masalah global itu ?
Ø  Ruang lingkup nya bersifat transnasional. Asal usul dan akibat dari masalahnya melintasi dari satu Negara.
Ø  Isu-isu dan masalahnya hanya dapat diselesaikan melalui tindakanb multi rateral (penyelesaian dan perbaikan tidak dapat dicapai hanya tindakan  satu Negara )
Ø  Tingkat Konflik itu ada didalam ciri pertama maupun ciri kedua.
Ø  Masalah dan isu-isu ini  ini mempunyai sifat terus menerus
Ø  Isu dan masalah in terkait dengan hal lain . Pada umumnya penyelesaian pada satu masalah akan memepunyai pengaruh pada beberapa faktor lainya.
Kniep ( 1986)  Mengemukakan empat Kategori Pemikiran Isi Pendidikan Global yang dapat menjadi masukan untuk kurikulum
1). Isu-isu Perdamaian dan Keamanan
Dunia sekarang tempat tinggal kita merupakan obsesi global bagi keamanan nasional. Setiap tahun, Negara-negara didunia menghabiskan dana sekitar $ 750 billion atau sekitar 6% GNP dunia untuk membayar persenjataan. Jumlah ini mendekati $ 150 billion per orang yang ada di bumi. Sejak Perang Duni II, walaupun bukan satu Negara saja yang berperang namun telah di umumkan bahwa sedikit nya 160 konflik bersenjata telah terjadi sehingga sekitar 16 juta jiwa meninggal dunia. Semua lembaran peristiwa hitam ini adalah ancaman perang nuklir yang kemungkinan lebih banyak memakan jiwa.
2). Isu- isu Pembangunan
Studi tentang isu-isu pembangunan akan mengajak para siswa dalam perjuangan rakyat dan bangsa untuk memperoleh kebutuhan dasar, mencapai pertumbuhan ekonomi nasional, dan memperluas kebebasan politik, ekonomi dan social mereka. Studi ini terutama akan memfokuskan pada sejumlah Isu-isu dan masalah maslah sekitar pelebaran kesenjangan antara otrang kaya dan orang msiskin di dunia dan ketidak adilan serta penderitaan akibat dari kesenjangan ini. Kita dapat menangkap sejumlah dimensi kesenjangan antara si kaya dan si miskin ini dengan membandingkan urutan penduduk paling kaya di dunia dan urutan penduduk paling miskin di dunia.
3). Isu- isu Lingkungan
Isu- isu lingkungan terutama berkaitan dengan akibat-akibat eksploitasi sumber daya manusia dan pengelolaan kekayaan bumi : tanah, lautan, hutan dan unsur unsur lainya. Masal;ah –masalah yang berkaitan dengan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan bukanlah persoalan baru.
4). Isu- isu Hak  Asasi Manusia
Berapa dekade setelah Perang Dunia II muncul perhatian besar terhadap hak asasi manusia di seluruh dunia. Kepedulian ini sebai akibat dari banyak nya kekejaman yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia lainya selama peperangan. Demikian Pula kejahatan kaum colonial dan imprialis barat terhadap penduduk jajahan yang berada diluar batas-batas perikemanusiaan. Deklarasi PBB tentang Hak asasi manusia tersebut merupakan reaksi langsung terhadap peristiwa tersebut.ss
4.  Kajian Sejarah Hubungan Antar Bangsa dan Saling Ketergantungan
Perspektif sejarah yang meliputi evolusi nilai-nilai kemanusiaan yang ber eda-beda dan bersifat universal, pembangunan sejarah sistem global kontemporer dan kondisi serta faktor penyebab muncul nya isu-isu dan masalah-masalah global saat ini merupakn fondasi bagi pendidikan global. Sayangya, sejarah yang di pelajari oleh kebanyakan siswa kita hanya sedikit mengembangkan perspektif dunia yang saling ketergantungan saat ini. Sejarah dunia yang diajarkan adalah peradaban barat atau pengaruh barat terhadap dunia lainya. Seringkali, sejarah dunia merupakan sejarah yang memisahkan wilayah –wilayah regional dan hubungan nya antara Negara tersebut. Biasanya, semua sejarah memfokuskan pada perkembangan Negara negar yang lebih kuat dalam dunia kontemporer.Pada umumnya, pendekatan- pendekatan tradisional untuk mengakaji sejarah dunia masih sedikit mengungkap pengertian saling ketergantungan antar bangsa karena pendekatan ini tidak menekankan pada akar sejarah dari saling ketergantungan tersebut. Dengan demikian, apabila para siswa kita benar –benar memahami saling ketergantungan dalam dunia kontemporer maka meraka harus mendasarkan pengetahuan tentang kontak dan pertukaran antar peradaban yang telah berlangsung sedikit nya sejak 2000 tahun yang lalu. Bukti adanya kontak dan pertukaran tersebut pernah dikemukakan oleh sejarawan yang bernama William McNeill yang mengacu ‘ the ecumene’ sebagai bukti kontak antar bangsa dari spanyol sampai afrika utara hingga Laut cina selam kekaisaran romawi dan han kontak ini dilakukan melalui jalur laut maupun darat melintasi wilayah Timur Tengah. Perpindahan tanaman dan hewan terjadi antara lain dengan adanya katun, gula dan ayam yang dikembangkan di india hingga ke Cina dan Erasia. Rahasia teknologi berpindah secara perlahan. Baja India di ekspor oleh kekaisaran romawi namun teknologi pembuatannya tidak mengalami peralihan.


DAFTAR PUSTAKA

MODEL PEMBELAJARAN IPS UNTUK SD


MODEL PEMBELAJARAN IPS UNTUK SD
A. Model Pembelajaran
1) Pengertian Model Belajar-Mengajar
Dalam keseharian istilah ‘model’ dimaksudkan terhadap pola atau bentuk yang akan menjadi acuan. Dalam konteks pendidikan agaknya tidak jauh juga maknanya, yakni sebagai kerangka konseptual berkenaan dengan rancangan yang berisi langkah teknis dalam kesatuan strategis yang harus dilakukan dalam mendorong terjadinya situasi pendidikan; dalam wujud perilaku belajar dan mengajar dengan kecenderungan berbeda antara satu dengan lainnya atau dengan yang biasanya. Dengan demikian sebuah model dalam konteks pembelajaran, tidaklah dapat diterima sebagai sebuah model jika tidak memperliahatkan ciri khususnya sebagai sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Adapun menurut Sarifudin (Wahab, Azis, 1990: 1) yang dimaksud dengan ‘model belajar mengajar’ adalah “kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang terorganisasikan secara sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, yang berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar”. Dengan demikian, model belajar-mengajar khususnya dapat diartikan sebagai satuan cara, yang berisi prosedur, langkah teknis yang harus dilakukan dalam mendekati sasaran proses dan hasil belajar hingga mencapai efektifitasnya, menurut kesesuaian dengan setting waktu, tempat dan subjek ajarnya.
2) Macam-macam Model Mengajar
a. Model-model Pemrosesan
Model-model yang berorientasi pada kemampuan pemrosesan informasi dari siswa dan cara memperbaiki kemampuannya dalam menguasai informasi, merujuk pada cara orang menangani stimulus dari lingkungannya, mengorganisasikan data, menginderai masalah, melahirkan konsep dan pemecahan masalah, dan menggunakan simbol verbal da non-verbal. Sungguhpun model-model yang termasuk ke dalam rumpun ini berkesan akademik namun tetap peduli akan hubungan sosial dan pengembangan diri. Model-model yang termasuk dalam rumpun ini antara lain adalah; Model Berpikir (Inquiry Training Model), Inkuiri Ilmiah (Scientific Inquiry), Perolehan Konsep (Concept), Model Advance Organizer (Advance Organizer Model), dan Ingatan (Memory). Model berpikir yang dikembangkan Hilda Taba, dirancang terutama untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik atau pembentukan teori, namun kapasitasnya berguna pula untuk pengembangan personal dan sosial.
b. Model-model Personal
Model-model yang termasuk ke dalam rumpun personal berorientasi pada pengembangan diri individu, model-model ini menekankan proses pembentukan individu dalam mengorganosasikan realitasnya yang unik. Fokus pengembangan diri berkesan menekankan pada pembinaan emosional antara individu dalam hubungan produktif dengan lingkungannya hingga diharapkan menghasilkan hubungan interpersonal yang lebih kaya dan kemampuan pemrosesan yang lebih efektif lagi. Terliput ke dalam rumpun ini adalah; Pengajaran Non-Direktif (Non-directive Teaching), Pelatihan Kesadaran (Awraness Training), Sinektic (Synectics), Sistem Konseptual (Conceptual System) dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting).
c. Model-model Interaksi Sosial
Model-model pembelajaran yang termasuk rumpun Interaksi Sosial, menekankan hubungan antara individu dengan masyarakat dan dengan individu lainnya. Fokus model ini terletak pada proses di mana dengan proses ini realitas dinegosiasi memberikan prioritas pada perbaikan kemampuan individu untuk berhubungan dengan yang lainnya, bergelut dengan proses demokratik dan bekerja secara produktif dalam masyarakat. Termasuk ke dalam rumpun model ini, antara lain : Investigasi Kelompok (Group Investigation), Inkuiri Sosial (Social Inquiry), Metode Laboratorium (Laboratory Method), Yurisprudensial (Yurisprudential), Bermain Peran (Role Playing) dan Simulasi Sosial (Social Simulation).
d. Model Behavioral
Model-model yang termasuk ke dalam rumpun behavioral berpijak pada landasan teoritis yang sama, yakni teori tingkah laku (Behavioral Theory). Dalam penerapannya, model ini banyak menggunakan istilah lain seperti teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi tingkah laku, dan terapi tingkah laku. Ciri pokoknya menekankanpada usaha mengubah tingkah laku teramati ketimbang struktur psikologis yang mendasarinya dan tingkah laku yang tidak teramatinya. Model ini mendasarkan pada prinsip kontrol stimulus dan penguatan (Stimulus Control and Reinforcement). Lebih dari model lainnya model behavioral memiliki keterpakaian yang luas dan teruji keefektifannya pada aneka tujuan seperti pendidikan, pelatihan, tingkah laku interpersonal da pengobatan. Tercakup kedalam model ini, antara lain: Manajemen Kontingensi (Contingency Management), Kontrol Diri (Self Control), Relaksasi (Relaxation), Reduksi Stres (Stress Reducation), Pelatihan Asertif (Assertive Training), Desentisasi (Desensitization) dan Pelatihan Langsung (Direct Training).
B. Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Mengatasi Masalah Pendidikan IPS di SD
Sejumlah model pendekatan pembelajaran tersebut diatas, masing-masing mengedepankan keunggulan dalam mengupayakan pencapaian sasaran yang diyakini oleh setiap pengembangannya, namun untuk penerapan praktis di tempat yang sangat mungkin berbeda, harus dikalkulasikan dengan berbagai aspek kondisional yang tentu tidak sama. Sekurang-kurangnya dimana, oleh, atau dengan dan terutama untuk siapa proses pembelajaran dilakukan. Khusus berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran pada anak usia pertumbuhan, dari sejumlah model tersebut tentunya dapat dirujuk model pendekatan yang menjadi rujukan di atas dengan sebutan model Cognitive Emotion and Social Development. Dasar pandangannya adalah “anak merupakan produk berbagai pengaruh, mulai dari keluarganya, kesehatan, kondisi sosial ekonomi dan sekolah”. Bahwa masing-masing pendekatan pada pandangan teoritis berkenaan dengan stressingnya, dalam praktisnya dapat terjadi saling berkait antara satu pendekatan dengan pendekatan lain secara bersamaan. Untuk itu, memenuhi keperluan teknis operasional dalam mengembangkan pembelajaran Pengetahuan Sosial berbasis pendekatan nilai khususnya, berikut dipetikan langkah teknis sejumlah model pilihan yang dipandang mewakili tuntutan karakteristik materil, peserta didik dan setting sosial yang menjadi lingkungan kultur dan belajar SD/MI umumnya di tanah air. Beberapa dari sejumlah pendekatan yang menjadi rujukan tersebut, secara parsial terliput dalam kerangka teknis model pilihan berikut, antara lain: Model Inkuiri, VCT, Bermain Peta, ITM (STS), Role Playing, dan Portofolio.
1) Model Inkuiri
a) Makna Pembelajaran Inkuiri
Model inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang memfokuskan kepada pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir reflektif kritis, dan kreatif. Inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang dipandang modern yang dapat dipergunakan pada berbagai jenjang pendidikan, mulai tingkat pendidikan dasar hingga menengah. Pelaksanaan inkuiri di dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial dirasionalisasi pada pandangan dasar bahwa dalam model pembelajaran tersebut, siswa didorong untuk mencari dan mendapatkan informasi melalui kegiatan belajar mandiri. Model inkuiri pada hakekatnya merupakan penerapan metode ilmiah khususnya di lapangan Sains, namun dapat dilakukan terhadap berbagai pemecahan problem sosial. Savage Amstrong mengemukakan bahwa model tersebut secara luas dapat digunakan dalam proses pembelajaran Social Studies (Savage and Amstrong, 1996). Pengembangan strategi pembelajaran dengan model inkuiri dipandang sanagt sesuai dengan karakteristik materil pendidikan Pengetahuan Sosial yang bertujuan mengembangkan tanggungjawab individu dan kemampuan berpartisipasi aktif baik sebagai anggota masyarakat dan warganegara.
b) Langkah-langkah Inkuiri
Langkah-langkah yang harus ditempuh di dalam model inkuiri pada hakekatnya tidak berbeda jauh dengan langkah-langkah pemecahan masalah yang dikembangkan oleh John Dewey dalam bukunya “How We Think”. Langkah-langkah tersebut antara lain:
· Langkah pertama, adalah orientation, siswa mengidentifikasi masalah, dengan pengarahan dari guru terutama yang berkaitan dengan situasi kehidupan sehari-hari.
· Langkah kedua hypothesis, yakni kegiatan menyusun sebuah hipotesis yang dirumuskan sejelas mungkin sebagai antiseden dan konsekuensi dari penjelasan yang telah diajukan.
· Langkah ketiga definition, yaitu mengklarifikasi hipotesis yang telah diajukan dalam forum diskusi kelas untuk mendapat tanggapan.
· Langkah keempat exploration, pada tahap ini hipotesis dipeluas kajiannya dalam pengertian implikasinya dengan asumsi yang dikembangkan dari hipotesis tersebut.
· Langkah kelima evidencing, fakta dan bukti dikumpulkan untuk mencari dukungan atau pengujian bagi hipotesa tersebut.
· Langkah keenam generalization, pada tahap ini kegiatan inkuiri sudah sampai pada tahap mengambil kesimpulan pemecahan masalah (Joyce dan Weil, 1980).
2) Model Pembelajaran VCT
a) Makna Pembelajaran VCT
VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai. Djahiri (1979: 115) mengemukakan bahwa Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Karena itu, pada prosesnya VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya. Dengan kata lain, Djahiri (1979: 116) menyimpulkan bahwa VCT dimaksudkan untuk “melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga masyarakat”.
b) Langkah Pembelajaran Model VCT
Berkenaan dengan teknik pembelajaran nilai Jarolimek merekomendasikan beberapa cara, antara lain:
a. Teknik evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group evaluation)
Dalam teknik evaluasi diri dan evaluasi kelompok pesertadidik diajak berdiskusi atau tanya-jawab tentang apa yang dilakukannya serta diarakan kepada keinginan untuk perbaikan dan penyempurnaan oleh dirinya sendiri:
1) Menentukan tema, dari persoalan yang ada atau yang ditemukan peserta didik
2) Guru bertanya berkenaan yang dialami peserta didik
3) Peserta didik merespon pernyataan guru
4) Tanya jawab guru dengan peserta didik berlangsung terus hingga sampai pada tujuan yang diharapkan untuk menanamkan niai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut.
b. Teknik Lecturing
Teknik lecturing, dilalukan guru gengan bercerita dan mengangkat apa yang menjadi topik bahasannya. Langkah-langkahnya antara lain:
1) Memilih satu masalah / kasus / kejadian yang diambil dari buku atau yang dibuat guru.
2) Siswa dipersilahkan memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan menggunakan kode, misalnya: baik-buruk, salah benar, adil tidak adil, dsb.
3) Hasil kerja kemudian dibahas bersama-sama atau kelompok kalau dibagi kelompok untuk memberikan kesempatan alasan dan argumentasi terhadap penilaian tersebut.
c. Teknik menarik dan memberikan percontohan
Dalam teknik menarik dan memberi percontohan (example of axamplary behavior), guru membarikan dan meminta contoh-contoh baik dari diri peserta didik ataupun kehidupan masyarakat luas, kemudian dianalisis, dinilai dan didiskusikan.
d. Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan
Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan, dalam teknik ini peserta didik dituntut untuk menerima atau melakukan sesuatu yang oleh guru dinyatakan baik, harus, dilarang, dan sebagainya.
e. Teknik tanya-jawab
Teknik tanya-jawab guru mengangkat suatu masalah, lalu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan sedangkan peserta didik aktif menjawab atau mengemukakan pendapat pikirannya.
f. Teknik menilai suatu bahan tulisan
Teknik menila suatu bahan tulisan, baik dari buku atau khusus dibuat guru. Dalam hal ini peserta didik diminta memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan kode (misal: baik - buruk, benar – tidak-benar, adil – tidak-adil dll). Cara ini dapat dibalik, siswa membuat tulisan sedangkan guru membuat catatan kode penilaiannya. Selanjutnya hasil kerja itu dibahas bersama atau kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap penilaian.
g. Teknik mengungkapkan nilai melalui permainan (games). Dalam pilihan ini guru dapat menggunakan model yang sudah ada maupun ciptaan sendiri.
3) Model Bermain Peta
Keterampilan menggunakan dan menafsirkan peta dan globe merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. Keterampilan menginterpretasi peta maupun globe perlu dilakukan peserta didik secara fungsional. Peta dan globe memberikan manfaat, yaitu: a) siswa dapat memperoleh gambaran mengenai bentuk, besar, batas-batas suatu daerah; b) memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai istilah-istilah geografi seperti: pulau, selat, semnanjung, samudera, benua dan sebagainya; c) memahami peta dan globe, diperlukan beberapa syarat yaitu : (a) arah, siswa mengerti tentang cara menentukan tempat di bumi seperti arah mata angin, meridian, paralel, belahan timur dan barat; (b) skala, merupakan model atau gambar yang lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya; (c) lambang-lambang, merupakan simbo-simbol yang mudah dibaca tanpa ada keterangan lain; (d) warna, menggunakan berbagai warna untuk menyatakan hal-hal tertentu misalnya: laut, beda tinggi daratan, daerah, negara tertentu dsb.
4) Pendekatan ITM (Ilmu-Teknologi dan Masyarakat)
a) Kebermaknaan Model Pendekatan ITM
Pendekatan ITM (Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat) atau juga disebut STS (Science-Technology-Society) muncul menjadi sebuah pilihan jawaban atas kritik terhadap pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang bersifat tradisional (texbook), yakni berkisar masih pada pengajaran tentang fakta-fakta dan teori-teori tanpa menghubungkannya dengan dunia nyata yang integral. ITM dikembangkan kemudian sebagai sebuah pendekatan guna mencapai tujuan pembelajaran yang berkaitan langsung dengan lingkungan nyata dengan cara melibatkan peran aktif peserta didik dalam mencari informasi untuk meemcahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan kesehariannya. Pendekatan ITM menekankan pad aktivitas peserta didik melalui penggunaan keterampilanproses dan mendorong berpikir tingkat tinggi, seperti; melakukan kegiatan pengumpulan data, menganalisis data, melakukan survey observasi, wawancara dengan masyarakat bahkan kegiatan di laboratorium dsb. Oleh karena itu, permasalahan tentang kemasyarakatan sebagaimana adanya tidak terlepas dari perkembangan ilmu dan teknologi, dapat dijawab melalui inkuiri. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut peserta didik menjadi lebih aktif dalam menggali permasalahan berdasarkan pada pengalaman sendiri hingga mampu melahirkan kerangka pemecahan masalah dan tindakan yang dapat dilakukan secara nyata. Karena itu, pendekatan ITM dipandang dapat memberi kontribusi langsung terhadap misi pokok pembelajaran pengetahuan sosial, khusus dalam mempersiapkan warga negara agar memiliki kemampuan: a) memahami ilmu pengetahuan di masyarakat, b) mengambil keputusan sebagai warga negara, c) membuat hubungan antar pengetahuan, dan d) mengingat sejarah perjuangan dan peradaban luhur bangsanya.
b) Langkah Pendekatan ITM
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran pendekatan ITM antara lain:
1. Menekankan pada paham kontruktivisme, bahwa setiap individu peserta didik, telah memiliki sejumlah pengetahuan dari pengalamannya sendiri dalam kehidupan faktual di lingkungan keluarga dan masyarakat.
2. Peserta didik dituntut untuk belajar dalam memecahkan permasalahan dan dapat menggunakan sumber-sumber setempat (nara sumber dan bahan-bahan lainnya) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah.
3. Pola pembelajaran bersifat kooperatif (kerja sama) dalam setiap kegiatan pembelajaran serta menekankan pada keterampilan proses dalam rangka melatih peserta didik berfikir tingkat tinggi.
4. Peserta didik menggali konsep-konsep melalui proses pembelajaran yang ditempuh dengan cara pengamatan (observasi) terhadap objek-objek yang dipelajarinya.
5. Masalah-masalah aktual sebagai objek kajian, dibahas bersama guru dan peserta didik guna menghindari terjadi kesalahan konsep.
6. Pemilihan tema-tema didasarakan urutan integratif.
7. Tema pengorganisasian pokok dari sejumlah unit ITM adalah isu dan masalah sosial yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
c) Tahapan Metode Pendekatan ITM
(1) Tahap Eksplorasi
Kegiatan eksplorasi merupakan tahap pengumpulan data lapangan dan data yang berkaitan dengan nilai. Peserta didik dengan bantuan LKS secara berkelompok melakukan pengamatan langsung. Eksplorasi dilakukan guna membuktikan konsep awal yang mereka miliki dengan konsep ilmiah.
(2) Tahap Penjelasan dan Solusi
Dari data yang telah terkumpul berdasarkan hasil pengamatan, diharapkan peserta didik mampu memberikan solusi sebagai alternatif jawaban tentang persoalan lingkungan. Peserta didik didorong untuk menyampaikan gagasan, menyimpulkan, memberikan argumen dengan tepat, membuat model, membuat poster yang berkenaan dengan pesan lingkungan, membuat puisi, menggambar, membuat karangan, serta membuat karya seni lainnya.
(3) Tahap Pengambilan Tindakan
Peserta didik dapat membuat keputusan atau mempertimbangkan alternatif tindakan dan akibat-akibatnya dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperolehnya. Berdasar pengenalan masalah dan pengembangan gagasan pemecahannya, mereka dapat bermain peran (Role Playing) membuat kebijakan strategis yang diperlukan untuk mempengaruhi publik dalam mengatasi permasalahan lingkungan tersebut.
(4) Diskusi dan Penjelasan
Berikutnya guru dan peserta didik melakukan diskusi kelas dan penjelasan konsep melalui tahapan sebagai berikut:
· Masing-masing kelompok melaporkan hasil temuan pengamatan lingkungannya.
· Guru memberikan kesempatan kepada anggota kelas lainnya untuk memberikan tanggapan atau informasi yang relevan terhadap laporan kelompok temannya.
· Guru bersama peserta didik menyimpulkan konsep baru yang diperoleh kemudian mereka diminta melihat kembali jawaban yang telah disampaikan sebelum kegiatan eksplorasi.
· Guru membimbing peserta didik merkonstruksi kembali pengetahuan langsung dari objek yang dipelajari tentang alam lingkungannya.
(5) Tahap Pengembangan dan Aplikasi Konsep
· Guru bertanya pada peserta didik tentang hal-hal yang diliahat dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan aplikasi konsep baru yang telah ditemukan.
· Guru dan peserta didik mendiskusikan sikap dan kepedulian yang dapat mereka tumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan konsep baru yang telah ditemukan.
(6) Tahap Evaluasi
Pada tahapan evaluasi, guru memperlihatkan gambar suasana lingkungan yang berbeda yaitu lingkungan yang terpelihara dan yang tidak terpelihara. Kemudian menggunakan pertanyaan pancingan pada peserta didik sehingga mampu memberikan penilaian sendiri tentang keadaan kedua lingkungan tersebut.
(7) Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup merupakan kegiatan penyimpulan yang dilakukan guru dan peserta didik dari seluruh rangkaian pembelajaran. Sebagai bagian penutup, guru menyampaikan pesan moral.
5) Model Role Playing
a) Kebermaknaan Penggunaan Model Role Playing
Role Playing adalah salah satu model pembelajaran yang perlu menjadi pengalaman belajar peserta didik, terutama dalam konteks pembelajaran Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan didalamnya. Sebagai langkah teknis, role playing sendiri tidak jarang menjadi pelengkap kegiatan pembelajaran yang dikembangkan dengan stressing model pendekatan lainnya, seperti inkuiri, ITM, Portofolio, dan lainnya. Secara komprehensif makna penggunaan role playing dikemukakan George Shaftel (Djahiri, 1978: 109) antara lain:
1) untuk menghayati sesuatu/hal/kejadian sebenarnya dalam realitas kehidupan; 2) agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya; 3) untuk mempertajam indera dan perasaan siswa terhadap sesuatu; 4) sebagai penyaluran/pelepasan tensi (kelebihan energi psykhis) dan perasaan-perasaan; 5) sebagai alat diagnosa keadaan; 6) ke arah pembentukan konsep secara mandiri; 7) menggali peran-peran dari pada dalam suatu kehidupan/kejadian/keadaan; 8) menggali dan meneliti nilai-nilai (norma) dan peranan budaya dalam kehidupan; 9) membantu siswa dalam mengklarifikasikan (memperinci) pola berpikir, berbuat dan keterampilannya dalam membuat/ mengambil keputusan menurut caranya sendiri; 10) membina siswa dalam kemampuan memecahakan masalah.
b) Langkah-langkah Role Playing
Adapun langkah-langkahnya, Djahiri (1978: 109) mengangkat urutan teknis yang dikembangkan Shaftel yang terdiri dari 9 langkah dalam tabel berikut.
No.
Urutan Langkah
Kegiatan dan Pelakunya
1.
Penjelasan umum
1.1. Mencari atau mengemukakan permasalahan (oleh guru atau bersama siswa).
1.2. Memperjelas masalah/ topik tersebut (guru).
1.3. Mencari bahan-bahan, keterangan atau penjelasan lebih lanjut, dengan menunjukan sumbernya (guru & siswa).
1.4. Menjelaskan tujuan, makna dari role playing.
2.
Memilih para pelaku
2.1. Menganalisis peran yang harus dimainkan (guru bersama siswa).
2.2. Memilih para pelakunya (dibantu guru).
3.
Menentukan Observer
3.1. Menentukan observer dan menjelaskan tugas dan peranannya (guru & siswa).
4.
Menentukan jalan cerita
4.1. gariskan jalan ceritanya.
4.2. tegaskan peran-peran yang ada didalamnya.
4.3. berikut gambaran situasi keadaan cerita tersebut (guru + siswa).
5.
Pelaksanaan (bermain)
5.1. Mulai melakonkan permainan tersebut
5.2. Menjaga agar setiap peran berjalan.
5.3. Jagalah agar babakan-babakan terlihat jelas.
No.
Urutan Langkah
Kegiatan dan Pelakunya
6.
Diskusi dan permainan
6.1. Telaah setiap peran, posisi, dan permainan.
6.2. diskusikan hal tersebut berikut saran perbaikannya.
6.3. Siapkan permainan ulangan.
7.
Permainan ulang dan diskusi serta penelaahan
7.1. Seperti sub 5 dan sub 6
8.
Mempertukarkan pikiran, pengalaman dan membuat kesimpulan
8.1. Setiap pelaku mengemukakan pengalaman, perasaan dan pendapatnya.
8.2. Observer mengemukakan penilaian pendapatnya.
8.3. Siswa dan guru membuat kesimpulan dan merangkainya dengan topik / konsep yang sedang dipelajarinya.
6) Model Portofolio
a) Makna Pembelajaran Portofolio
Protofolio dalam pendidikan mulai dipergunakan sebagai salah satu jenis model penilaian (Assesment) yang berbasis produk, yakni penilaian yang didasarkan pada segala hasil yang dapat dibuat atau ditunjukan peserta didik, kemudian dihimpun dalam sebuah ‘map jepit’ (portofolio) untuk dijadikan bahan pertimbangan guru dalam memberikan asesmen otentik terhadap kinerja peserta didik.
Sapriya (Winataputra, 2002: 1.16) menegaskan bahwa: “portofolio merupakan karya terpilih kelas/siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif membuat kebijakan publik untuk membahas pemecahan terhadap suatu masalah kemasyarakatan”. Makna pembelajaran berbasis portofolio dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial adalah memperkenalkan kepada peserta didik dan membelajarkan mereka “pada metode dan langkah-langkah yang digunakan dalam proses politik” kewarganegaraan/kemasyarakatan.
b) Langkah-langkah Penbelajaran Portofolio
Secara teknis pendekatan portofolio dimulai dengan membagi peserta didik dalam kelas ke dalam beberapa kelompok, lajimnya dilakukan menjadi 4 atau sesuai menurut keadaan dan keperluannya. Berdasarkan urutannya, setiap kelompok membidangi tugas dan tanggungjawab masing-masing, antara lain:
(1) Kelompok portofolio-satu; Menjelaskan masalah, dalam tugasnya kelompokini bertanggung jawab untuk menjelaskan masalah yang telah mereka pilih untuk dikaji dalam kelas.
(2) Kelompok portofolio-dua; Menilai kebijakan alternatif yang diusulkan untuk memecahkan masalah, dalam tugasnya kelompok ini bertanggung jawab untuk menjelaskan kebijakan saat ini dan atau kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah.
(3) Kelompok portofolio-tiga; Membuat satu kebijakan publik yang didukung oleh kelas, dalam tugasnya kelompok ini bertanggung jawab untuk membuat satu kebijakan publik tertentu yang disepakati untuk didukung oleh mayoritas kelas serta memberikan pembenaran terhadap kebijakan tersebut.
(4) Kelompok portofolio-empat; Membuat satu rencana tindakan agar pemerintah (setempat) dalam masyarakat mau menerima kebijakan kelas. Dalam tugasnya kelompok ini bertanggung jawab untuk membuat suatu rencana tindakan yang menujukkan bagaimana warganegara dapat mempengaruhi pemerintah (setempat) untuk menerima kebijakan yang didukung oleh kelas.